Malam Panjang Alfrijal dan Sahban, Mengumpulkan Harapan di Jalanan Ternate

Dua orang anak yang sedang tertidur di depan bangunan Indomaret Kelurahan Maliaro, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate. (Baskara)

Kotapost – Malam di Kelurahan Maliaro, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Rabu (21/10/2026), masih ramai. Jarum jam menunjukkan pukul 20.46 WIT. Lalu lintas di depan sebuah Indomaret terus bergerak, diiringi deru kendaraan dan aktivitas jual beli.

Di tengah keramaian itu, dua anak kecil tampak tertidur pulas di depan bangunan Indomaret. Kelelahan setelah seharian beraktivitas, keduanya terlelap di tengah hiruk-pikuk kota yang belum sepenuhnya beristirahat.

Mereka adalah Alfrijal (12) dan Sahban Ramadani (8), kakak beradik yang tinggal di Lingkungan Jan, Kelurahan Tabona, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate. Keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar. Alfrijal kelas enam, sedangkan Sahban kelas dua di SD Negeri 20 Kota Ternate.

Namun, hari-hari mereka tak hanya diisi dengan belajar dan bermain seperti anak-anak seusianya. Sepulang sekolah, keduanya menyusuri jalanan untuk memungut botol plastik bekas yang nantinya dijual demi mendapatkan uang.

Bagi Alfrijal dan Sahban, memungut botol bekas bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Ada kebutuhan keluarga yang ingin mereka bantu penuhi, mulai dari uang jajan hingga tambahan biaya sekolah.

Pilihan itu, kata Alfrijal, datang dari keinginan mereka sendiri.

“Torang (kami) yang mau sendiri untuk melakukan pekerjaan kumpul botol ini. Kalau kerja kumpul botol terus torang (kami) lakukan, berarti ada doi jajan, baik di sekolah maupun di rumah. Selain itu, untuk tambah-tambah biaya sekolah,” ujar Alfrijal kepada kru kotapost, Rabu (21/10/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan cerita tentang dua anak yang harus membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan di jalanan.

Di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan di Maluku Utara, pengalaman Alfrijal dan Sahban memperlihatkan sisi lain kehidupan anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Keinginan bersekolah tetap mereka jaga, meski sepulang sekolah masih ada pekerjaan yang menanti.

Setiap hari, keduanya mengumpulkan botol bekas hingga malam. Aktivitas itu bisa berlangsung sampai sekitar pukul 22.00 WIT. Mereka berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mencari botol yang bisa dikumpulkan.

Ayah mereka biasanya menjemput ketika malam semakin larut. Namun, lokasi penjemputan tidak selalu sama karena keduanya terkadang sudah berjalan lebih dahulu menuju rumah.

“Biasanya itu jam 22.00 WIT torang (kami) akan pulang, dijemput oleh papa. Ketika dijemput, kadang dapat torang (kami) di Maliaro, atau bahkan di tempat lain, karena lain kali sudah berjalan pulang duluan soalnya,” jelasnya.

Botol-botol yang terkumpul kemudian mereka jual kepada pengepul atau kios yang bersedia menerima. Namun, upaya itu tidak selalu berjalan mudah. Ada kalanya botol yang telah susah payah dikumpulkan justru tidak bisa dijual karena tempat yang mereka datangi menolak membelinya.

“Setelah botol ini terkumpul dengan jumlah yang banyak baru torang (kami) jual di kios-kios. Tapi, kadang juga susah, karena kios sering tra (tidak) terima botol bekas,” katanya.

Di rumah, ayah Alfrijal bekerja sebagai tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara itu, ibunya merupakan ibu rumah tangga yang juga kerap memungut botol bekas.

Dalam kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, pekerjaan yang dilakukan Alfrijal dan Sahban menjadi salah satu cara untuk membantu orang tua. Uang yang mereka peroleh mungkin tidak seberapa, tetapi bagi keduanya, hasil memungut botol bekas memiliki arti tersendiri.

Di usia ketika sebagian anak menghabiskan malam untuk beristirahat setelah belajar dan bermain, Alfrijal dan Sahban masih harus menyusuri jalanan. Mereka mengumpulkan botol demi botol, berharap ada uang yang bisa dibawa pulang.

Di antara botol-botol bekas yang mereka pungut, tersimpan harapan sederhana: tetap bersekolah, membantu keluarga, dan terus melangkah menuju masa depan yang mereka impikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini