BMKG Ternate: Musim Kemarau Maluku Utara Diprediksi hingga Oktober 2026

Kantor BMKG Ternate. Ist

Kotapost – BMKG Kelas I Babullah Ternate memprakirakan musim kemarau di sejumlah wilayah Maluku Utara masih akan berlangsung hingga Oktober 2026.

Prakirawan Cuaca BMKG Kelas I Babullah Ternate, Justia Galensong, mengatakan puncak musim kemarau di wilayah Maluku Utara diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026. Prakiraan tersebut lebih cepat dibandingkan prakiraan awal BMKG.

Menurutnya, fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan kondisi cuaca, sehingga sejumlah wilayah di Maluku Utara diperkirakan masih mengalami kondisi kering hingga akhir tahun 2026.

“Berkurangnya curah hujan di wilayah Maluku Utara beberapa pekan sebelumnya membuat kelembapan tanah semakin menurun. Fenomena El Nino juga turut memperparah kondisi alam, sehingga mengakibatkan cuaca sangat kering dan curah hujan sangat berkurang,” ujar Justia saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2026).

Selain fenomena El Nino, kata dia, kecepatan angin yang berkisar antara 2 hingga 25 knot, bahkan mencapai 30 knot, turut memengaruhi kondisi musim kemarau di wilayah Maluku Utara.

“Saat ini angin bertiup cukup kencang yang mengakibatkan adanya tarikan massa udara dan belokan angin di bagian timur laut utara Indonesia. Angin kencang itu membuat awan-awan hujan menjadi buyar dan tidak lagi berkembang,” katanya.

Justia menjelaskan, suhu udara yang sebelumnya berkisar 30 hingga 33 derajat Celsius kini meningkat hingga 34 derajat Celsius. Kondisi tersebut menunjukkan cuaca panas harian yang semakin terik akibat minimnya tutupan awan serta tingginya radiasi sinar matahari yang mencapai permukaan bumi.

Menurut Justia, beberapa wilayah di Maluku Utara juga akan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi cukup panjang hingga sangat panjang. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kekeringan dan kebakaran.

“Diperkirakan wilayah yang akan mengalami kekeringan di antaranya Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Halmahera Utara (Halut), beberapa wilayah di Halmahera Timur (Haltim), dan Kabupaten Pulau Morotai,” jelasnya.

Karena itu, Justia mengimbau masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca dan tinggi gelombang melalui kanal resmi BMKG guna memastikan informasi yang diperoleh akurat.

Selain itu, masyarakat diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar. Kondisi tanah yang sangat kering ditambah angin kencang dinilai dapat memicu kebakaran dan memperluas penyebaran api.

“Selain tidak membakar sampah sembarangan, pengguna jasa transportasi laut, termasuk nelayan, agar lebih memperhatikan tinggi gelombang yang bisa meningkat hingga dua kali lipat akibat angin kencang. Masyarakat juga diharapkan bijak dalam menggunakan pasokan air bersih di tengah musim kemarau,” pungkasnya.

Penulis: Baska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup