9.600 Tanaman Perkebunan di Moti-Hiri Terdampak Kemarau, Terancam Rusak 

Kepala Bidang Perkebunan Dinstan Kota Ternate, Istib Saroh. (Baskara)

Kotapost – Dinas Pertanian (Distan) Kota Ternate mencatat lebih dari 80 ribu tanaman perkebunan milik masyarakat terdampak musim kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Bidang Perkebunan Distan Kota Ternate, Istib Saroh, mengatakan Kecamatan Batang Dua menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup besar. Tanaman pala dan cengkih menjadi komoditas yang paling banyak terdampak, sementara tanaman kelapa relatif lebih sedikit.

“Di Batang Dua tanaman pala yang terdampak itu hampir 50 ribu pohon lebih, sementara cengkih mencapai 31 ribu pohon. Kalau untuk perkebunan kelapa, tidak terlalu berdampak signifikan, paling banyak hanya pohon kelapa yang baru ditanami masyarakat,” ujar Istib saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, 5 Oktober 2026.

Selain Batang Dua, dampak musim kemarau dan karhutla juga terjadi di Pulau Moti dan Pulau Hiri. Berdasarkan data sementara Distan, sekitar 9.600 tanaman perkebunan di dua wilayah tersebut mengalami kekeringan hingga mati.

“Berdasarkan data yang kami dapat, untuk wilayah Pulau Moti terdapat 1.200 tanaman, sementara Pulau Hiri sebanyak 8.400 jenis tanaman yang terdampak akibat musim kemarau dan karhutla,” ungkapnya.

Sementara di wilayah perkotaan, kata Istib, Distan Kota Ternate masih melakukan pendataan, khususnya di Kelurahan Moya yang beberapa hari sebelumnya mengalami kebakaran.

“Kalau untuk wilayah kota termasuk Kelurahan Moya, kami masih berupaya mendata. Kalau untuk luasan kebakaran lahan, kami telah bisa mendata, namun untuk jumlah tanaman perkebunan yang terbakar, kami belum bisa memastikan secara pasti,” katanya.

Istib menjelaskan, pendataan dilakukan melalui sejumlah cara, mulai dari pendataan langsung oleh petugas di lapangan, laporan petani, pemerintah kelurahan, hingga kelompok tani.

“Kendati telah mendapat laporan dari sejumlah kelompok, kami berharap agar masyarakat dapat melaporkan segala kejadian yang menimpa perkebunan mereka, agar pendataan dapat berjalan lancar,” jelasnya.

Menurut Istib, tanaman yang terdampak musim kemarau dan karhutla didominasi tanaman berusia produktif atau tanaman yang selama ini telah menghasilkan dan dipanen masyarakat.

Menghadapi kondisi tersebut, Distan Kota Ternate akan mendorong percepatan pemulihan terhadap perkebunan masyarakat yang terdampak. Langkah awal dilakukan dengan mendata tanaman yang mengalami kekeringan maupun mati akibat kebakaran.

Pendataan tersebut nantinya menjadi dasar bagi Distan untuk mengusulkan rehabilitasi perkebunan kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

“Setelah melakukan pendataan, kami akan berupaya untuk mengusulkan kegiatan rehabilitasi tanaman yang rusak melalui program pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini