BMKG Ungkap Penyebab Kabut Asap Mengintai Maluku Utara
Kotapost – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua dan sejumlah titik di Halmahera memicu peningkatan kabut dan asap di sebagian besar wilayah Maluku Utara.
Prakiraan Cuaca BMKG Kelas I Babullah Ternate, Fahmi Bachdar, mengatakan kabut dan asap yang melanda sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir diduga berasal dari kebakaran hutan yang cukup besar di kedua wilayah tersebut.
“Kabut dan asap yang melanda sebagian besar wilayah Maluku Utara dalam beberapa hari terakhir merupakan kiriman asap dari wilayah Papua dan beberapa titik di Halmahera akibat kebakaran hutan yang cukup besar,” ujar Fahmi, Senin (12/10/2026).
Ia menjelaskan, pergerakan angin dari arah timur hingga tenggara menuju barat laut sampai utara menjadi salah satu faktor yang membawa kabut dan asap ke wilayah Maluku Utara.
Akibatnya, tujuh kabupaten dan kota mengalami peningkatan kabut dan asap. Sementara itu, dampak di Kabupaten Pulau Taliabu dan Kabupaten Kepulauan Sula dilaporkan tidak signifikan.
Wilayah yang terpantau paling parah terdampak meliputi Kabupaten Pulau Morotai, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Utara, Halmahera Selatan, Kota Ternate, dan Kota Tidore Kepulauan.
Fahmi mengatakan, kondisi tersebut berpotensi terus berlangsung apabila hujan belum turun untuk membantu meredam kebakaran di Papua dan sejumlah titik di Halmahera.
“Jika hujan tidak kunjung turun untuk meredam kebakaran di wilayah Papua dan sebagian kecil Halmahera, kabut serta asap akan tetap melanda Maluku Utara,” ujarnya.
Di sisi lain, BMKG Kelas I Babullah Ternate memperkirakan hujan mulai berpeluang terjadi pada dasarian ketiga Oktober 2026 atau dalam sepuluh hari terakhir bulan tersebut. Namun, hujan diperkirakan turun secara tidak merata di setiap kabupaten dan kota.
Menurut Fahmi, meningkatnya potensi hujan berkaitan dengan masa transisi atau peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Kondisi tersebut mendorong pertumbuhan awan yang berpotensi memicu badai guntur, angin kencang, hingga hujan ekstrem.
Sejumlah wilayah yang diperkirakan lebih dahulu memasuki periode hujan pada akhir Oktober meliputi Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Barat, Halmahera Utara, dan Pulau Morotai.
Sementara itu, penyebaran hujan diperkirakan semakin merata pada November 2026 hingga Januari 2027, termasuk di Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, dan Pulau Taliabu.
BMKG mengimbau masyarakat agar mengutamakan keselamatan saat beraktivitas, terutama warga yang tinggal di wilayah pesisir pantai dan kawasan rawan bencana.
Masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG, baik melalui situs web, media sosial, grup WhatsApp, maupun siaran radio.
“Kami imbau masyarakat untuk lebih berhati-hati, terutama di wilayah yang rawan bencana. Selain itu, kami minta warga memantau informasi cuaca resmi dari BMKG melalui media sosial, website, grup WhatsApp, maupun radio,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan