Sejumlah Desa di Obi Terdampak Karhutla, Penanganan Terus Dilakukan

Kotapost – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda lima desa di Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, yakni Desa Baru, Akegula, Buton, Laiwui, dan Jikotamo. Penanganan kebakaran melibatkan pemerintah kecamatan dan desa, masyarakat, aparat keamanan, serta perusahaan.

Namun, keterbatasan air dan kondisi medan yang terjal menjadi kendala dalam proses pemadaman, terutama di kawasan hutan yang sulit dijangkau petugas.

Camat Obi, Ali Lajarahia, mengatakan penanganan karhutla dilakukan setelah rapat koordinasi lintas sektor bersama perusahaan. Koordinasi tersebut dilanjutkan dengan upaya pemadaman di sejumlah lokasi terdampak.

“Setelah dilakukan rapat koordinasi lintas sektor dan perusahaan, proses penanganan langsung dilakukan. Memang ada beberapa kendala dalam proses penanganan, yakni ketersediaan air untuk pemadaman dan lokasi kebakaran yang berada di kawasan hutan dengan medan terjal sehingga petugas mengalami kesulitan,” kata Ali.

Selain menghambat proses pemadaman, karhutla juga berdampak pada lingkungan permukiman. Kabut asap dilaporkan menyelimuti sejumlah desa di Kecamatan Obi.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan melalui Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah guna mengurangi paparan asap.

Ali menyebut penanganan karhutla secara bersama-sama telah berlangsung sekitar tujuh hari. Dalam upaya tersebut, Harita Nickel memberikan dukungan operasional alat berat beserta dua drum bahan bakar minyak (BBM) alat berat yang berfungsi memutus meluasnya karhutla.

Sementara itu, Koordinator Lapangan (Korlap) Karhutla Kecamatan Obi, Kapten Inf. Amin Tomia, mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi tiga titik awal api, masing-masing satu titik di wilayah Desa Baru dan dua titik di Desa Buton.

“Hingga kini, penyebab kebakaran belum diketahui secara pasti karena titik-titik awal api berada di kawasan hutan,” katanya.

Amin mengatakan koordinasi antarunsur terus dilakukan untuk mendukung penanganan di lapangan. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, baik saat beraktivitas di sekitar rumah maupun di kebun.

Di wilayah lain, karhutla juga terjadi di Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, pada 17 Oktober 2026. Penanganan kebakaran di desa tersebut melibatkan Pemerintah Desa Soligi, masyarakat, dan Harita Nickel.

Sebelumnya, kata dia, kebakaran kembali muncul di sekitar tempat pembuangan sampah (TPS) Desa Kawasi, Kecamatan Obi. Menanggapi kejadian itu, Harita Nickel mengerahkan Crisis Management Team (CMT) untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat dalam penanganan kebakaran.

Diketahui, penanganan karhutla di sejumlah wilayah tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, masyarakat, aparat keamanan, hingga perusahaan. Di tengah upaya pemadaman, keterbatasan air dan medan yang sulit masih menjadi tantangan dalam menangani kebakaran di kawasan hutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini