Harga Pala Naik, Fuli Tembus Rp310 Ribu per Kilogram di Ternate
Kotapost – Harga komoditas lokal pala dan cengkih di Kota Ternate, Maluku Utara, mengalami perubahan sejak akhir September hingga Oktober 2026. Harga fuli atau bunga pala kini mencapai Rp310 ribu per kilogram, sedangkan biji pala kualitas premium dijual hingga Rp100 ribu per kilogram.
Salah satu tengkulak di Toko Harapan Karya, Ruben, mengatakan harga pala sempat mengalami penurunan pada pekan kedua Oktober. Namun, harga kembali naik pada pekan ketiga bulan ini dan masih berada dalam kisaran normal.
Menurut Ruben, harga fuli saat ini mencapai Rp310 ribu per kilogram. Sementara itu, biji pala kualitas A atau premium dijual dengan harga Rp95 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Adapun biji pala kualitas B dibanderol Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.
“Sedangkan biji pala yang kualitasnya A atau premium harganya Rp95 hingga Rp100 ribu. Sementara kualitas B atau yang berada di bawah standar harganya berkisar Rp60 hingga Rp70 ribu rupiah,” ujar Ruben kepada Kotapost, Rabu (21/10/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga pala dipengaruhi meningkatnya permintaan pasar di tengah menurunnya pasokan dari petani. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan musim kemarau yang berlangsung sejak Juni hingga Oktober 2026 dan berdampak pada perkebunan masyarakat.
“Musim panas ini telah membuat distribusi pasokan pala menurun. Akibat pasokan yang turun membuat harga otomatis naik, karena permintaan pasar yang meningkat. Kemungkinan besar nanti Desember 2026 baru distribusi pasokan akan membaik, itupun kalau hujan,” jelasnya.
Sementara itu, harga cengkih saat ini berada di angka Rp125 ribu per kilogram. Harga tersebut kembali meningkat setelah sebelumnya sempat turun menjadi Rp110 ribu per kilogram.
“Untuk cengkih harganya mencapai Rp125 ribu rupiah. Satu bulan yang lalu sempat mengalami penurunan harga hingga mencapai pada Rp110 ribu rupiah,” katanya.
Ruben menyebutkan, sebagian besar pasokan pala dan cengkih yang dijual di Ternate berasal dari sejumlah wilayah di Pulau Halmahera. Di antaranya Jailolo, Bacan, Obi, Gane Timur, dan Gane Barat. Sementara itu, penjualan oleh warga Kota Ternate cenderung berlangsung rutin dengan jumlah yang lebih kecil.
“Warga Kota Ternate itu rutin melakukan penjualan, meski sedikit. Kalau penjualan dengan jumlah besar, paling banyak dilakukan oleh masyarakat Jailolo, Bacan, Obi, Gane Timur, dan Gane Barat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan