Musim Kemarau, 159 Kelompok Tani Hortikultura di Ternate Tetap Produktif 

Kepala Dinas Pertanian Kota Ternate, Faisal Dano Husein. (Baska)

Kotapost – Dinas Pertanian Kota Ternate mencatat hasil produksi petani hortikultura sejak Juni hingga Juli 2026 tetap stabil meski di wilayah Maluku Utara sedang mengalami musim kemarau.

Kepala Dinas Pertanian Kota Ternate, Faisal Dano Husein, mengatakan sebanyak 159 kelompok petani hortikultura di Ternate telah menyumbangkan distribusi hasil pertanian yang signifikan. Kelompok tersebut terdiri atas delapan hingga sepuluh orang.

“Hasil produksi pertanian di bulan Juli 2026 paling banyak berkisar 1338.16 kwintal. Sementara paling sedikit produksinya berkisar 6.00 kwintal. Di bulan sebelumnya produksi pertanian tidak jauh beda,” ujar Faisal saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, dari total 159 kelompok petani tersebut didominasi masyarakat di wilayah Kecamatan Ternate Barat dan Ternate Pulau. Sementara Kecamatan Ternate Selatan dan Kecamatan Ternate Utara di posisi kedua, dan Ternate Tengah posisinya paling sedikit.

Faisal menjelaskan, Kota Ternate merupakan pulau kecil yang sebagian besar lahannya telah dihuni atau dijadikan area permukiman oleh masyarakat. Meski demikian, petani hortikultura di Ternate tetap eksis menanam hingga memproduksi tanaman bulanan.

“Sistem pertanian yang dipakai petani tidak membutuhkan lahan luas. Sistem pertanian itu tersebar dalam spot-spot kecil atau lahan sebesar 2 hektar. Walaupun tidak memiliki lahan besar, petani hortikultura di Ternate tetap eksis dan berproduksi,” jelasnya.

Meski tetap berproduksi dengan baik hingga Juli 2026, musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sampai pada Oktober dapat menimbulkan dampak serius terhadap hasil produksi petani di beberapa bulan kedepan.

Ia menyebutkan, musim kemarau dapat memengaruhi berkurangnya ketersediaan pasokan air petani di wilayah berketinggian dan menurunnya kelembapan tanah secara drastis. Situasi tersebut dinilai dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Selain itu, lanjut Faisal, musim kemarau juga berpotensi dapat meningkatkan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) atau hama tertentu selama musim panas berlangsung.

“Akibat kekurangan air, tanaman hortikultura akan lebih cepat mengalami stres tanaman. Selain itu, kurangnya pasokan air dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan pertanian masyarakat,” katanya.

Sehingga itu, untuk mengantisipasi penurunan produksi petani kedepan saat diperhadapkan musim kemarau, pihaknya rutin melakukan monitoring berkala di lokasi pertanian atau spot-spot di wilayah Ternate untuk memastikan ketersediaan air maupun kendala di lapangan.

Menurut Faisal, edukasi budidaya melalui teknik hemat air, pembuatan mulsa, dan irigasi tetesan air sederhana merupakan hal penting yang mesti dilakukan demi menjaga kelembapan tanah.

“Pendampingan penyuluh di bawah arahan Kementerian Pertanian selalu melakukan dampingan terhadap petani di setiap kecamatan untuk memastikan keluhan petani dan kondisi tanaman tetap terjaga,” ungkapnya.

Faisal juga mengimbau kepada petani agar tidak membuka lahan pertanian dengan cara dibakar, karena hal tersebut dapat memicu kebakaran, apalagi saat ini sedang mengalami musim kemarau.

Ia menambahkan, imbauan tersebut merupakan edaran Wali Kota Ternate kepada seluruh masyarakat baik tingkat kecamatan maupun kelurahan agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar maupun melakukan pembakaran sampah secara sembarangan di kawasan pertanian maupun permukiman.

“Perubahan iklim merupakan tantangan kita semua. Sehingga itu, dengan mengelola air dengan bijak, penerapan teknologi budidaya yang tepat, dan tidak melakukan pembakaran sembarangan, maka produktivitas pertanian di Kota Ternate dapat terus terjaga,” pungkas Faisal.

Penulis: Baska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup