Ternate Selatan Dominasi Anak Tidak Sekolah pada 2026, Ini Penyebabnya

Kantor Dinas Pendidikan Kota Ternate. (Baskara)

Kotapost – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Ternate mencatat jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) pada 2026 didominasi wilayah Kecamatan Ternate Selatan dibandingkan kecamatan lainnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Ternate, Ridwan Ali, mengatakan tingginya angka ATS di Ternate Selatan dipengaruhi kepadatan penduduk serta keragaman latar belakang masyarakat di wilayah tersebut.

“Kasus ATS paling banyak didominasi wilayah Kecamatan Ternate Selatan, selanjutnya disusul Ternate Utara, Ternate Tengah, Ternate Barat, Kecamatan Moti, dan posisi paling rendah berada di wilayah Kecamatan Batang Dua,” ujar Ridwan kepada Kotapost, Rabu (9/9/2026).

Ia menjelaskan, kondisi ATS di Kota Ternate dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya urbanisasi untuk mencari pekerjaan, baik di lingkungan pasar maupun instansi terkait, serta kondisi keluarga yang tidak lagi utuh.

Kondisi tersebut membuat sejumlah anak memilih tidak melanjutkan pendidikan dan terpaksa mencari penghasilan secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu berdampak pada hilangnya motivasi anak untuk melanjutkan pendidikan formal.

“Temuan kami, masalah keuangan keluarga masih menjadi alasan utama anak putus sekolah. Itu yang membuat anak-anak tidak lagi melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya,” jelasnya.

Menurut Ridwan, data ATS dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) kerap mengalami perubahan. Kondisi tersebut membuat Disdik Kota Ternate belum dapat memastikan jumlah ATS pada 2026.

Meski demikian, berdasarkan perkiraan Disdik Kota Ternate, angka ATS setiap tahun, khususnya pada 2026, mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Dalam Dapodik data ATS sering kali berbeda dengan kondisi riil di lapangan. Banyak data belum valid karena ada siswa yang telah pindah sekolah, meninggal dunia, berusia di atas 20 tahun, atau telah mengikuti program kesetaraan berupa ujian Paket A, B, dan C. Tapi, data itu belum di-update dari pihak sekolah maupun Dapodik,” katanya.

Selain menangani persoalan ATS, Ridwan mengatakan Disdik Kota Ternate terus mendorong Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) agar memperoleh pendidikan yang layak melalui sekolah reguler yang menerapkan sistem pendidikan inklusif.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memastikan pemerataan layanan pendidikan bagi generasi di Kota Ternate.

Kendati belum mengetahui secara pasti jumlah ATS pada 2026, Ridwan mengungkapkan pihaknya rutin bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait untuk menekan angka ATS di Kota Ternate.

Kerja sama tersebut melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Ternate untuk meninjau kondisi di lapangan, termasuk di area belakang Jatiland Mall, Benteng Oranje, dan sejumlah lokasi kerumunan lainnya.

“Selain menjalin kerja sama dengan Satpol PP, kami juga rutin melakukan edukasi kepada masyarakat secara berkala melalui Posyandu dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang melibatkan orang tua siswa. Hal itu kami buat untuk menumbuhkan semangat orang tua agar tetap melanjutkan anak-anak mereka bersekolah,” ungkapnya.

Selain itu, Ridwan menambahkan, pihaknya rutin berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk menekan angka ATS di Kota Ternate, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Saat anak telah lulus SMP dan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA karena terkendala biaya, kami berkoordinasi dengan pihak pemerintah provinsi selaku pemegang wewenang di jenjang SMA atau SMK agar dapat memfasilitasi anak-anak itu untuk melanjutkan sekolah,” pungkas Ridwan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup