Kemarau Panjang, 30 Rumah di Tubo, Ternate, Krisis Air Bersih

Warga RT 08, Kelurahan Tubo, Kota Ternate, Lili saat mengambil air di tempat penampungan air. (Baskara)

Kotapost – Warga RT 08, Kelurahan Tubo, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, mengeluhkan layanan air bersih yang hingga kini belum merata. Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sejak 2020 hingga 2026.

Memasuki musim kemarau, warga terpaksa membeli air dengan harga relatif mahal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian warga bahkan menyiapkan tempat penampungan untuk menampung air yang dibeli maupun air hujan.

Salah satu warga setempat, Lili (40), mengatakan tempat penampungan tersebut menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan air di tengah keterbatasan layanan air bersih.

Menurut Lili, harga air yang dijual bergantung pada kapasitas tangki atau profil air yang digunakan. Harganya berkisar Rp120.000 hingga Rp300.000 per tangki.

“Air tangki ukuran kecil biasanya dijual pebisnis dengan harga sekitar Rp120.000 per profil. Sementara tangki besar yang dijual Perumda Ake Gaale, dengan kapasitas 1.100 liter, berkisar Rp250.000 sampai Rp300.000,” ujar Lili saat ditemui Kotapost, Senin (7/9/2026).

Ia menjelaskan, air yang dibeli tersebut tidak dapat bertahan lama karena pemakaiannya bergantung pada jumlah anggota keluarga di masing-masing rumah.

Lili mengungkapkan, sejak musim kemarau berlangsung sekitar Juni hingga September 2026, warga rutin mengeluarkan biaya cukup besar untuk membeli air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Satu tangki biasanya bertahan sekitar satu sampai tiga minggu. Itu juga bergantung pada pemakaian dan jumlah orang di masing-masing rumah. Jika tidak ada hujan, biaya ini menjadi beban bulanan yang mesti kami tanggung,” keluhnya.

Meski harus mengeluarkan biaya tambahan, kata Lili, air tangki hanya digunakan untuk kebutuhan seperti mencuci pakaian, mencuci perlengkapan dapur, dan mandi.

“Kualitas air tangki ini tidak cocok untuk diminum karena warnanya agak berlumut dan kehijauan jika terkena sinar matahari. Untuk minum, kami membeli air galon. Air tangki ini hanya dipakai untuk mandi dan mencuci,” katanya.

Lili menyebutkan, terdapat sekitar 30 rumah di permukiman tersebut yang belum menikmati layanan air bersih sejak 2020.

Kondisi itu membuat warga merasa jenuh dan mempertanyakan pemerataan pelayanan air bersih oleh pemerintah daerah melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Ake Gaale.

“Kami hidup di permukiman sini sudah sekitar lima atau enam tahun, namun kami belum mendapatkan layanan air bersih yang merata dari pemerintah daerah melalui Perumda Ake Gaale,” pungkasnya.

Sementara itu, Perumda Ake Gaale belum memberikan tanggapan terkait keluhan warga tersebut. Kotapost telah berupaya meminta konfirmasi dengan mendatangi kantor Perumda Ake Gaale serta menghubungi pihak terkait melalui pesan WhatsApp, namun hingga berita ini diterbitkan belum memperoleh tanggapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup