Musim Kemarau, Perumda Ake Gaale Ternate Klaim Debit Air Tetap Stabil
Kotapost – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Ake Gaale Kota Ternate mencatat ketersediaan debit air masih stabil meski musim kemarau berlangsung sejak Juni hingga September 2026.
Direktur Utama Perumda Ake Gaale Kota Ternate, Firman Mudaffar Syah, mengatakan penggunaan air masyarakat masih berada di bawah cadangan debit air yang diproduksi Perumda.
Menurut Firman, produksi air Perumda Ake Gaale berkisar 1.400 hingga 1.600 meter kubik per bulan. Sementara konsumsi masyarakat diperkirakan hanya mencapai 900 hingga 1.000 meter kubik per bulan.
“Itu yang membuat kami optimistis bisa melewati musim kemarau untuk tetap mendistribusikan air kepada warga,” ujar Firman, Selasa, 22 September 2026.
Ia menyebutkan, Perumda memiliki sejumlah sumber air bersih yang didistribusikan kepada masyarakat. Di antaranya mata air Ake Gaale di Kelurahan Sangaji, Kecamatan Ternate Utara, serta sejumlah sumur bor di Kelurahan Ubo-Ubo, Kecamatan Ternate Selatan.
Masing-masing sumur bor tersebut disebut menyuplai sekitar 200 meter kubik air per bulan. Selain itu, sumber air lainnya tersebar di Kelurahan Tubo, Kalumpang, kawasan belakang Keraton atau Kelurahan Salero, wilayah Ternate Barat, Pulau Hiri, dan Pulau Moti.
“Selain mata air Ake Gaale dan sumur bor, kami juga memanfaatkan Danau Ngade sebagai sumber pasokan air. Namun, pengambilan air di kawasan tersebut tidak mencapai skala yang besar,” jelasnya.
Firman mengungkapkan, Perumda juga mulai melakukan perawatan dan pemeliharaan sumber air lainnya, termasuk sumur di kawasan bersejarah Benteng Orange. Langkah tersebut dilakukan untuk menambah sumber air sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan situs sejarah di Kota Ternate.
“Kegiatan pembersihan sumur telah berjalan. Selanjutnya pada tanggal 26 nanti, kami akan adakan acara pengecekan kualitas air di Benteng Orange dengan melibatkan anak sekolah serta komunitas Sahabat Air,” ungkapnya.
Meski optimistis dengan ketersediaan debit air, Perumda mulai menerapkan skema pendistribusian ke permukiman warga secara bertahap. Kebijakan tersebut menjadi langkah mitigasi agar distribusi air tetap merata.
“Jika kondisi kekeringan berlanjut, kami mulai menerapkan skema distribusi air secara bergilir ke permukiman warga, misalnya satu hari menyala, satu hari mati. Langkah itu kami buat agar seluruh warga mendapatkan distribusi air secara merata,” katanya.
Karena itu, Firman mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak, mengingat kondisi cuaca masih berada dalam periode musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
“Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau, terutama dengan kondisi debit air di area Ake Gaale yang semakin berkurang, sehingga memengaruhi distribusi air ke permukiman warga,” pungkas Firman.




Tinggalkan Balasan