Tingkat Kesadaran Masyarakat Jaga Satwa, HWP Deklarasi Kelompok Konservasi di Ternate

Halmahera Wildlife Photography (HWP) gelar deklarasi kelompok konservasi di Takome, Ternate. (Ist)

Kotapost – Halmahera Wildlife Photography (HWP) secara resmi memulai program konservasi berbasis masyarakat dengan mendeklarasikan Kelompok Konservasi Desa di Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, Sabtu, (18/7/2026).

Kegiatan yang bertajuk Konservasi Endemik Berbasis Tapak ini berlangsung di Kelurahan Takome, Kota Ternate selama satu tahun tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk menghentikan perburuan satwa liar dan menjaga habitat endemik di kawasan yang telah menjadi pusat keanekaragaman hayati di Pulau Ternate.

Kegiatan yang didukung Packard Foundation dan Burung Indonesia itu dihadiri pemerintah kelurahan, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, kelompok perempuan, dan masyarakat Takome guna melakukan identifikasi tokoh kunci, agar menjadi langkah awal penggerak pelestarian lingkungan di tingkat kelurahan dapat segera dibentuk.

Ketua Halmahera Wildlife Photography, Dewi Ayu Anindita, mengatakan Takome dipilih karena memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari kawasan hutan di kaki Gunung Gamalama hingga pesisir sekaligus wilayah itu merupakan bagian dari kawasan Wallacea yang dikenal memiliki tingkat endemisitas tinggi.

Menurutnya, kekayaan hayati Takome kini menghadapi tekanan serius dari ancaman perburuan satwa. HWP mencatat, dalam dua tahun terakhir, sekitar 26 ekor kuskus mata biru mati akibat perburuan liar.

“Berbagai upaya konservasi sebenarnya telah dilakukan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat hingga komunitas. Namun keterlibatan masyarakat sebagai aktor utama masih belum optimal dan belum terorganisasi dalam wadah konservasi berbasis desa,” ujar Dewi.

Ia menjelaskan, program itu menargetkan pembentukan Kelompok Konservasi Desa, pendidikan konservasi di sekolah, kampanye perubahan perilaku terhadap konsumsi dan pemeliharaan satwa liar, serta membangun kolaborasi lintas sektor.

Menurut Dewi, sasaran program mencakup seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah kelurahan, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, kelompok perempuan, pelaku UMKM, peserta didik, hingga pemburu dan mantan pemburu.

“Takome memiliki potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran agar kekayaan alam ini tetap terjaga dan kelestariannya,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPC Perhimpunan Ahli Konservasi Sumber Daya Alam Indonesia Maluku Utara, Much. Hidayah Marasabessy, mengungkapkan konservasi yang melibatkan semua unsur merupakan pendekatan yang efektif guna menjawab persoalan lingkungan di tingkat tapak.

Hidayah menilai, Kelurahan Takome memiliki modal besar untuk dikembangkan konservasinya karena memiliki kawasan yang strategis seperti Danau Tolire, hutan tropis, kawasan pesisir, mangrove, dan keanekaragaman hayati yang tinggi.

“Kelompok konservasi desa diharapkan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan manfaat sosial dan ekonomi melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama dalam melakukan perlindungan terhadap kawasan dan spesies, karena hal tersebut didukung oleh kekuatan hukum.

“Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya telah jelas. Oleh karena itu, masyarakat harus memiliki peran untuk menjaga stabilitas kawasan yang dilindungi,” pungkasnya.

Penulis: Baska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Populer

Tutup