Pasar Syariah Sasa, Ternate, Rusak Parah, Pedagang Keluhkan Perbaikan
Kotapost – Sejumlah pedagang di Pasar Syariah Bahari Berkesan, Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, mengeluhkan kondisi infrastruktur dan fasilitas pasar yang disebut mulai mengalami kerusakan sejak 2022.
Untuk memulihkan kembali aktivitas pasar yang ramai dan perekonomian masyarakat, Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate diminta segera melakukan langkah perbaikan.
Berdasarkan pantauan kotapost di lapangan, sejumlah infrastruktur mulai mengalami kerusakan seperti genteng perlahan keropos dan lapak beton untuk pedagang tampak tidak terurus. Kondisi itu membuat pedagang tidak lagi meminati melakukan aktivitas jual beli di pasar tersebut.
Salah satu pedagang setempat, Muksin Hi Hasan (54), mengatakan setelah bangunan pasar diresmikan Wali Kota Ternate, H. Burhan Abdurrahman pada 2015, pasar tersebut disebut ramai dikunjungi pembeli karena dipenuhi pedagang.
Menurut Muksin, pendapatan pedagang pada saat itu diperkirakan mencapai Rp1 juta dalam sehari. Namun, kondisi tersebut berubah setelah sejumlah pedagang memilih keluar di badan jalan melakukan aktivitas jual beli pada 2022.
“Dulu, waktu pasar baru diresmikan, pasar ini masih ramai aktivitas jual beli. Keramaian itu membuat pembeli selalu datang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga pendapatan kami banyak,” ujar Muksin saat ditemui Kotapost, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, menurunnya aktivitas jual beli di pasar tersebut dikarenakan sejumlah infrastruktur dan fasilitas mulai mengalami kerusakan. Selain itu, faktor mengejar konsumen juga menjadi penyebab sepinya pasar.
Kendati kondisi pasar telah sepi, dirinya bersama satu pedagang lain lebih memilih untuk bertahan melakukan aktivitas jual beli di Pasar Syariah. Menurutnya, bangunan tersebut, mestinya tetap difungsikan agar bermanfaat kepada masyarakat.
“Maksudnya begini, kan bangunan ini telah dibangun pemerintah. Meski sekarang telah mengalami kerusakan infrastruktur dan fasilitas, pasti kedepan akan dilakukan langkah perbaikan oleh pemerintah,” jelasnya.
Akibat minim konsumen yang berbelanja, Muksin mengungkapkan, pasokan dagangan miliknya kerap membusuk hingga mengakibatkan pendapatan yang diperoleh dalam perhari berfluktuasi.
Ia menyebutkan, dalam sepekan konsumen yang datang di pasar untuk berbelanja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya pada Jumat hingga Minggu. Sementara Senin hingga Kamis, pembeli disebut mengalami penurunan.
“Karena pembeli jarang datang dalam sepekan, membuat barang dagangan saya sering busuk. Selain itu, kalau sedang ramai pendapatan saya mencapai Rp200 ribu. Tapi kalau sepi hanya Rp50 ribu bahkan Rp100 ribu juga dipaksakan,” ungkapnya.
Muksin berharap, Pemkot Ternate melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dapat melakukan langkah perbaikan infrastruktur dan fasilitas pasar.
“Karena mereka sudah janji, saya sangat berharap agar janji itu segera direalisasikan, agar pasar dapat kembali ramai seperti dulu. Kalau pasar ramai, otomatis pendapatan kami juga meningkat,” harapnya.
Sementara itu, pedagang di bahu jalan Sasa, Nurdiana Hamid (36), mengungkapkan dirinya memutuskan melakukan melakukan aktivitas jual beli di bahu jalan karena faktor konsumen yang dinilai lebih instan.
Selain konsumen yang instan, kata Nurdiana, kondisi infrastruktur dan fasilitas pasar di lokasi tersebut dinilai sudah tidak layak untuk digunakan karena mulai mengalami kerusakan.
“Pasar di Sasa itu kan sudah mulai mengalami kerusakan, baik dari segi infrastruktur dan fasilitas. Itu yang membuat masyarakat sudah tidak lagi meminati melakukan aktivitas penjualan di pasar,” katanya.
Ia menambahkan, apabila kedepan Pemkot Ternate dapat melakukan langkah perbaikan infrastruktur dan fasilitas, dirinya memastikan akan turut melakukan penjualan di pasar tersebut.
“Kalau pemerintah sudah perbaiki infrastruktur dan fasilitas, maka saya akan bajual di pasar. Karena kalau ba jual di jalan sini, harus mengeluarkan biaya tambahan ketika pembuangan sampah bekas dagangan,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan