BMKG: Gelombang Laut Malut Capai 2 Meter hingga Oktober 2026

Kepala BMKG Klas I Babullah Ternate, Desindra Deddy Kurniawan. (Baskara)

Kotapost – BMKG Kelas I Babullah Ternate memperkirakan tinggi gelombang laut di sejumlah wilayah perairan Maluku Utara masih mencapai 2 meter hingga Oktober 2026.

Kondisi tersebut membuat masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di wilayah pesisir maupun perairan, terutama nelayan dan pengguna kapal berukuran kecil.

Kepala BMKG Kelas I Babullah Ternate, Desindra Deddy Kurniawan, mengatakan tinggi gelombang diperkirakan berkisar 0,5 hingga 2 meter di hampir seluruh wilayah perairan Maluku Utara.

Menurutnya, Halmahera Selatan dan Halmahera Utara menjadi wilayah dengan intensitas gelombang laut yang relatif tinggi. Sementara sejumlah perairan lainnya diperkirakan mengalami gelombang yang lebih rendah.

“Tinggi gelombang yang mencapai 2 meter terjadi di wilayah utara dan selatan Halmahera, meliputi Batang Dua, Pulau Manggoli, Sanana, Bacan, Laiwui, dan Loloda Kepulauan. Sementara perairan Ternate tinggi gelombang berkisar antara 0,5 hingga 1,5 meter,” ujar Desindra saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (14/9/2026).

Ia menjelaskan, kondisi gelombang tersebut dipengaruhi peningkatan kecepatan angin yang terjadi pada puncak musim kemarau sejak Agustus hingga berakhir pada Oktober 2026.

Selain kecepatan angin, perbedaan tekanan udara atau gradient pressure yang dipicu munculnya sistem tekanan rendah di Laut Filipina turut memengaruhi kondisi perairan Maluku Utara. Hal ini terjadi karena posisi wilayah Maluku Utara yang berdekatan dengan sistem tekanan rendah tersebut.

Desindra menyebut kondisi gelombang dapat berdampak terhadap aktivitas kapal berukuran kecil atau longboat yang beroperasi di perairan Ternate, Tidore, Sofifi, Sidangoli, dan sejumlah wilayah lainnya.

“Kalau untuk kapal besar berkekuatan 30 GT dampaknya relatif kecil, sementara kapal kecil dan nelayan sangat berdampak. Selain itu, kecepatan angin ini juga berdampak pada risiko kebakaran hutan atau lahan,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu aktivitas nelayan maupun masyarakat yang melakukan kegiatan memancing untuk rekreasi di kawasan perairan Maluku Utara.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat dan seluruh pelaku aktivitas maritim untuk aktif memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG, termasuk media sosial Instagram dan grup WhatsApp.

“Selain melakukan pemantauan cuaca di kanal resmi BMKG, kami juga minta masyarakat diwajibkan menggunakan alat keselamatan seperti jaket pelampung saat hendak beraktivitas di laut, guna meningkatkan kewaspadaan keselamatan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup