Berkah Ramadan, Kisah Anto Sang Motoris Kapal Kayu di Laut Ternate

Kapal kayu rute Ternate Tidore. (Baska)

Kotapost – Terik matahari memantul di permukaan laut Pelabuhan Bastiong, Kota Ternate, pagi. Jam baru menunjukkan pukul 09.24 WIT, namun panasnya sudah terasa menyengat.

Di dermaga, para penumpang bersama sepeda motor mengantri untuk naik ke kapal kayu yang akan berlayar menuju Tidore.

Di tengah kesibukan itu, sebuah kapal kayu perlahan merapat. Mesin kapal bergetar pelan saat mendekati dermaga. Di balik kemudi, seorang pemuda berpostur tinggi tampak fokus mengarahkan kapal hingga bersandar dengan rapi.

Ia adalah Anto, 27 tahun, motoris kapal kayu asal Rum, Kota Tidore Kepulauan. Seperti hari-hari sebelumnya, Anto kembali menghabiskan waktunya di laut untuk mengantar penumpang antara Ternate dan Tidore.

Para penumpang satu per satu turun ke dermaga. Sementara itu, Anto terlihat mengambil kain lap dan membersihkan bangku penumpang di dalam kapal, menyiapkan kapal untuk perjalanan berikutnya.

Rutinitas ini sudah menjadi bagian dari kehidupan Anto. Sejak kecil ia telah akrab dengan laut. Bagi Anto, laut bukan hanya ruang perjalanan, tetapi tempat menggantungkan harapan hidup.

Meski begitu, penghasilan sebagai motoris kapal tidak selalu menentu. Pendapatan yang diperoleh setiap hari sangat bergantung pada jumlah penumpang.

“Pendapatan per hari kadang besar, kadang kecil. Tidak bisa ditentukan karena tergantung ramai atau tidaknya penumpang,” ujarnya saat ditemui kotapost pagi itu.

Menurut dia, sekali perjalanan, kapal yang ia kemudikan biasanya mengangkut sekitar 20 hingga 25 penumpang. Selain itu, ada sekitar 12 sepeda motor yang ikut diangkut di atas kapal.

Tarifnya Rp 15 ribu per orang. Sementara sepeda motor beserta pengendaranya dikenakan Rp 35 ribu.

“Kalau sekali jalan, hasilnya sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu,” kata Anto sambil memperbaiki slang yang tersambung dengan jeriken bahan bakar di kapal.

Namun angka itu belum termasuk biaya bahan bakar dan kebutuhan operasional kapal lainnya. Karena itu, hasil yang dibawa pulang tidak selalu besar.

Selain soal pendapatan, Anto juga harus berhadapan dengan berbagai kondisi alam di laut. Angin kencang, hujan, panas terik hingga gelombang tinggi menjadi tantangan yang sudah biasa ia hadapi.

Tak lama kemudian, giliran kapal Anto kembali bersiap berlayar. Penumpang mulai naik satu per satu. ABK membantu mendorong sepeda motor ke atas dek.

Anto kembali duduk di kursi kemudi. Dalam sehari, kapal yang ia bawa biasanya bolak-balik antara Ternate dan Tidore hingga delapan kali perjalanan jika penumpang ramai.

“Kalau banyak penumpang bisa 7 sampai 8 kali jalan. Kalau sepi, paling 4 sampai 6 kali,” ujarnya.

Anto menggumam, di bulan Ramadan seperti ini, pekerjaan itu tetap ia jalani tanpa perubahan. Meski sedang berpuasa, Anto tetap berada di bawah terik matahari pelabuhan sejak pagi hingga sore.

Bagi Anto, puasa bukan alasan untuk berhenti bekerja.

“Puasa tidak jadi penghalang untuk cari rezeki. Harus kuat dan sabar walaupun panas. Semua ini untuk keluarga di rumah,” tuturnya.

Penulis: Baska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup