Kisah Iki, Perantau Muda Penjaga Nadi Keluarga di Ternate

Iki, 22 tahun, perantau dari Desa Kawata, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. (Baska)

Kotapost – Panas siang di Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, terasa menyengat. Jarum jam menunjukkan pukul 13.50 WIT, sementara lalu lintas di depan Toko Mahkota tak pernah benar-benar sepi.

Suara kendaraan bersahutan, berpadu dengan aktivitas jual beli yang terus bergulir di dalam toko.

Di antara kesibukan itu, seorang pemuda duduk di depan toko. Tatapannya sesekali mengarah ke jalan, menunggu kemungkinan datangnya pembeli. Wajahnya tampak tenang, meski menyimpan cerita panjang tentang tanggung jawab dan pilihan hidup.

Ia adalah Iki, 22 tahun, perantau dari Desa Kawata, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara.

Selepas menamatkan pendidikan SMA pada 2021, Iki tidak mengambil jalan yang umum ditempuh banyak anak muda: melanjutkan kuliah. Ia justru memilih bekerja. Bukan karena tak punya mimpi, tetapi karena ada kebutuhan yang lebih mendesak—keluarga.

Sejak Desember 2025, Toko Mahkota menjadi ruang hidupnya sehari-hari. Pagi hingga sore, dari pukul 08.30 hingga 17.30 WIT, ia menjalani rutinitas yang nyaris tanpa jeda. Menjaga toko, melayani pembeli, mengangkat barang, hingga membersihkan sisa-sisa aktivitas di penghujung hari.

Tak ada keluhan berlebihan yang keluar dari mulutnya. Bagi Iki, pekerjaan adalah jalan bertahan.

“Di kota ini susah cari kerja. Jadi sambil cari yang lebih baik, ini tetap saya jalani,” katanya singkat saat ditemui kru kotapost, Jumat, 1 Mei 2026.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun menyimpan realitas yang tak ringan. Kota yang tampak penuh peluang ternyata tak selalu ramah bagi semua orang.

Dari pekerjaannya, Iki memperoleh upah sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Jumlah yang harus dibagi dengan cermat. Sebagian ia kirimkan ke kampung halaman, membantu kebutuhan keluarga. Sisanya digunakan untuk bertahan hidup di kota: membayar kos, makan, dan keperluan harian lainnya.

Di balik angka-angka itu, ada pengorbanan yang tak selalu terlihat.

Siang beranjak sore. Cahaya matahari mulai condong, namun Iki tetap di tempatnya. Menunggu, berharap, dan menjalani hari seperti biasa. Baginya, waktu bukan sekadar angka, melainkan ruang untuk terus berusaha.

Penampilannya sederhana. Kaos yang mulai pudar dan celana pendek menjadi teman setia dalam bekerja. Namun ia tak pernah merasa rendah diri.

“Tidak perlu malu. Yang penting bisa kerja, bisa kirim uang ke keluarga,” ujarnya, lirih namun tegas.

Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, kisah Iki seperti berjalan dalam ritme berbeda—lebih pelan, lebih sunyi, namun sarat makna. Ia tidak berbicara tentang cita-cita besar atau ambisi tinggi. Yang ia jaga adalah hal paling mendasar: agar dapur keluarganya tetap menyala.

Dari balik etalase toko sederhana itu, Iki mengajarkan bahwa perjuangan tak selalu lantang. Kadang, ia hadir dalam diam—di tangan yang lelah, di langkah yang tak berhenti, dan di hati yang terus bertahan demi orang-orang tercinta.

“Tidak perlu malu dengan penampilan, yang penting dapat uang agar keluarga bisa makan,” pungkasnya.

 

Penulis: Baska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup