Malam Puncak Refleksi Ramadan di Sagea, Generasi Muda Didorong Jaga Tradis
Kotapost – Malam puncak kegiatan refleksi bulan suci Ramadan yang digelar Ikatan Pelajar Mahasiswa Sagea-Kiya (IPMA Sagea-Kiya) di Desa Sagea, Kabupaten Halmahera Tengah, berlangsung sukses dan penuh makna pada Selasa (17/03/2026).
Penutupan tersebut dirangkaikan dengan berbagai agenda seremoni, mulai dari pertunjukan teaterikal perjuangan, pembacaan puisi, musik tradisional, hingga pemberian hadiah kepada para pemenang lomba keagamaan dan budaya.
Kegiatan yang bertujuan meramaikan bulan Ramadan ini diikuti sekitar 60 peserta dan tim, yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar tingkat TK, SD, SMP, SMA hingga masyarakat umum se-Kecamatan Weda Utara.
Bendahara panitia, Irawan Nasri, saat dihubungi menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan, termasuk penyerahan hadiah, berjalan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari pelajar maupun masyarakat.
Ia berharap, kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat nyata serta meningkatkan semangat belajar generasi muda dalam menjaga tradisi dan kearifan lokal.
“Semoga pemberian hadiah berupa alat belajar bagi adik-adik pelajar bisa bermanfaat dan menambah semangat belajar, agar tidak terpengaruh hal-hal negatif di era globalisasi. Kami juga berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan setiap tahun,” ujar Irawan.
Sementara itu, Ketua Panitia, Sabri Anwar, menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan ini merupakan respons terhadap perubahan besar yang terjadi di wilayah Sagea-Kiya, khususnya akibat hadirnya industri pertambangan.
Menurutnya, perubahan tersebut perlahan menggeser tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, bahkan sebagian di antaranya mulai terancam hilang seiring perubahan ruang hidup masyarakat.
“Tradisi yang dulu diwariskan dari generasi ke generasi perlahan mulai tergeser, bahkan ada yang hampir hilang karena perubahan lingkungan dan ruang hidup masyarakat,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pudarnya adat istiadat sama halnya dengan kehilangan identitas yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat. Karena itu, kegiatan ini tidak sekadar seremoni, melainkan upaya nyata untuk menghidupkan kembali serta menjaga nilai-nilai budaya lokal.
“Pembangunan boleh berjalan, tetapi budaya tidak boleh dikorbankan. Karena budaya adalah bagian dari identitas kita,” tutup Sabri.


Tinggalkan Balasan