Hermes, Sang Nelayan yang Tangguh

Michael Doru, Ketua Kota LMND Ternate. (Ist)

Pagi itu, jarum jam menunjukkan pukul 09.11 WIT. Matahari mulai menyinari pesisir barat Halmahera. Di tepian pantai, suara ombak bersahutan dengan kicau burung, menjadi irama alami yang menghidupi pagi.

——

Dari kejauhan tampak sebuah gubuk kecil berdiri di atas tiang-tiang kayu bakau. Gubuk itu sederhana. Papannya mulai rapuh, atapnya usang dimakan waktu. Namun, di tengah kesederhanaan itu, tampak seorang pria tengah melepas penat sambil merajut alat pancing dan bercengkerama dengan anak-anaknya.

Hari Minggu itu, di teras gubuk yang mulai lapuk, pria tersebut duduk ditemani segelas kopi dan singkong goreng di atas piring kaleng buatan istrinya. Ia adalah Hermes, nelayan berusia 54 tahun yang sedang berbagi tawa bersama anak-anaknya.

Tangan Hermes tak pernah benar-benar diam. Sambil berbicara, jemarinya yang mulai keriput terus mengikat umpan pancing untuk persiapan melaut keesokan hari.

Hermes telah menekuni profesi sebagai nelayan sejak 2002. Awalnya, alat yang ia gunakan sangat sederhana: sampan kecil, dayung, dan pancing ulur.

“Dulu enak. Jarak memancing sekitar 9 sampai 10 mil saja sudah bisa dapat cakalang dan tuna. Hasil jual ikan cukup untuk kebutuhan hidup,” katanya pelan.

“Sekarang beda. Jarak makin jauh, penghasilan juga tidak menentu,” lanjutnya sambil tersenyum, meski beban hidup yang dipikul begitu berat.

Di tengah percakapan, anak sulungnya bertanya pelan, “Ayah, sekarang berapa mil untuk sampai ke rumpon tempat biasa memancing”.

Hermes menghela napas sebelum menjawab,

“Sekitar 50 sampai 80 mil. Itu pun kalau kapal-kapal jaring besar dari Sulawesi belum lebih dulu datang menyebar soma. Kalau mereka sudah duluan, ikan di rumpon habis. Nelayan kecil datang tinggal kosong.”

Keluhan Hermes bukan tanpa alasan. Seperti data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Halmahera Barat tahun 2025 mencatat, dari 3.842 nelayan, sekitar 71 persen masih menggunakan armada kecil dengan jangkauan melaut rata-rata hanya 12 mil.

Sementara kapal pukat cincin dan kapal jaring berukuran besar dari luar daerah bebas beroperasi di atas batas itu dan menangkap ikan hingga ke rumpon-rumpon nelayan tradisional.

Namun bagi Hermes, menyerah bukan pilihan. Ia tetap pergi melaut demi menjaga kehidupan keluarganya tetap berjalan.

Sejak harga bensin naik dan pasokan di SPBU makin sulit, Hermes terpaksa membeli bensin eceran seharga Rp 15 ribu per liter. Perahunya membutuhkan sekitar 125 liter bensin untuk sekali melaut.

Hermes biasanya pergi memancing dua kali dalam seminggu. Jika hasil tangkapan bagus, uangnya dipakai membayar utang, memenuhi kebutuhan keluarga, dan membeli perlengkapan melaut lagi. Tetapi jika hasil tangkapan sedikit, semuanya terasa sia-sia.

“Rumpon kami kalah dengan kapal besar. Bensin susah, harga ikan juga ditekan tengkulak karena nelayan butuh uang cepat untuk melaut lagi,” ujarnya.

Meski begitu, di depan anak-anaknya Hermes selalu tampak kuat. “Laut kita seperti dikapling kapal besar. Nelayan kecil seperti kami sering dimarahi kalau memancing di rumpon mereka,” katanya lirih ketika anak-anaknya tak lagi berada di dekatnya.

“Tapi kalau saya murung, mereka bisa putus semangat sekolah. Senyum itu pagar, supaya anak-anak tidak ikut gelisah.”

Hermes memiliki empat anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Anak sulungnya kini kuliah di Ternate, anak kedua sering ikut melaut bersamanya, sementara dua adiknya yang masih sekolah dasar setiap malam menemani ibu mereka di gubuk sambil menunggu Hermes pulang dari laut.

Umpan pancing di tangan Hermes akhirnya selesai diikat. Besok akan kembali digunakan untuk mencari cakalang, meski ia tahu peluang mendapat ikan semakin kecil.

“Mungkin rumpon itu bukan milik nelayan lokal lagi. Tapi kalau tidak memancing di sana, kami mau cari ikan di mana?” katanya.

“Bensin mahal, ikan harus dicari jauh, tenaga saya juga sudah tidak muda lagi.”

DKP Halmahera Barat sendiri mengakui adanya ketimpangan tersebut. Pemerintah daerah telah mengusulkan zona khusus nelayan tradisional sejauh 0–6 mil yang steril dari kapal besar.

Namun pengawasan di laut masih terkendala armada patroli dan keterbatasan anggaran.

Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 WIT. Hermes berdiri. Kopi di gelas yang telah dingin ia habiskan sekali teguk.

“Sudah, cerita cukup. Besok ayah pergi memancing lagi. Semoga rumpon belum disoma supaya ikan masih ada,” katanya lagi.

Di luar gubuk, laut Halmahera Barat membentang luas dan biru. Terlalu luas bagi nelayan kecil, namun terasa sempit karena harus berbagi dengan jaring-jaring raksasa.

Hermes melangkah menuju perahunya yang bersandar tak jauh dari rumah. Langkahnya pelan, tetapi senyumnya tetap sama.

Di Halmahera Barat, tangguh bukan berarti tidak pernah kalah. Tangguh berarti tetap melaut meski tahu peluang pulang membawa hasil semakin kecil.

Dan Hermes adalah wajah dari ketangguhan itu.

—–

Penulis: Michael Doru – Ketua Kota LMND Ternate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup