Warga Ibu Tegaskan Kayu Bronjong Sudah Sesuai, Proyek BWS Malut Bantu Biaya Hidup
Kotapost – Pekerjaan bronjong yang dilaksanakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara di wilayah terdampak banjir Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, tidak hanya bertujuan mengurangi risiko bencana, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Salah satu warga, Nayo, mengaku dirinya bersama sejumlah rekannya dipercaya untuk mengambil kayu yang digunakan dalam pekerjaan bronjong tersebut.
Menurutnya, terdapat dua jenis kayu yang diambil, yakni kayu sigigi dan gigi tipi yang dikenal masyarakat setempat sebagai jenis kayu keras.
“Ada dua jenis kayu yang kita ambil. Kayu sigigi dan gigi tipi. Torang ambil kayu itu juga tidak asal-asalan, karena yang diambil adalah kayu keras. Torang tara mungkin ambil kayu yang lombo,” ujar Nayo, Rabu (10/6/2026).
Ia membantah isu yang menyebutkan kayu yang digunakan tidak sesuai spesifikasi. Menurutnya, kayu yang dipilih merupakan jenis yang kuat dan lazim digunakan masyarakat untuk berbagai kebutuhan konstruksi.
“Kalau ada yang bilang kayu tidak sesuai, itu kayu apa? Setahu saya ada banyak jenis kayu, tapi yang biasa kita pakai itu kayu keras semua,” katanya.
Nayo menegaskan, dirinya tidak ingin mengambil risiko dengan menyediakan kayu berkualitas rendah, mengingat material tersebut akan digunakan untuk bangunan pengaman sungai yang melindungi masyarakat dari ancaman banjir.
“Saya tidak mau ambil kayu yang lombo karena saya tahu ini untuk bikin bronjong. Artinya untuk perlindungan masyarakat, jadi harus pakai kayu yang kuat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, dalam proses pengambilan kayu, yang terpenting adalah tidak menggunakan kayu putih yang berkualitas rendah. Jika menggunakan kayu putih, maka harus dipilih yang benar-benar keras dan layak digunakan.

Selain itu, Nayo mengaku pekerjaan tersebut memberikan tambahan penghasilan yang cukup berarti bagi keluarganya.
“Untuk ekonomi sehari-hari sangat membantu dengan adanya pekerjaan ini. Ekonomi keluarga ada perubahan,” ungkapnya.
Menurutnya, manfaat pekerjaan bronjong tidak hanya dirasakan para pekerja, tetapi juga seluruh masyarakat yang sebelumnya terdampak banjir.
“Manfaat pekerjaan bronjong ini untuk kita semua masyarakat sekitar yang pernah terkena banjir beberapa waktu lalu,” tuturnya.
Ia juga memastikan selama proses pengambilan kayu tidak ada kendala berarti di lapangan.
Sementara itu, rekannya, Peris, turut membantah tudingan mengenai penggunaan kayu yang tidak sesuai.
“Kayu yang diambil itu kayu keras semua. Jadi isu terkait pengambilan kayu tidak sesuai itu tidak benar. Buat daerah sendiri, tong tara mungkin ambil kayu lombo. Pasti ambil yang kuat,” tegas Peris.
Ia mengaku sangat bersyukur karena pekerjaan tersebut membantu memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama biaya pendidikan anak.
“Sangat membantu untuk anak sekolah. Dengan pekerjaan ini saya bisa membantu biaya kuliah anak saya. Kebetulan waktu itu saya tidak punya uang sama sekali,” ujarnya.
Menurut Peris, kesempatan bekerja dalam proyek bronjong menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar yang membutuhkan tambahan penghasilan.
“Tiba-tiba ada pekerjaan seperti ini, saya sangat bersyukur. Pekerjaan ini sangat menunjang biaya kuliah anak saya. Harapannya, kalau masih ada kebutuhan kayu, mudah-mudahan kami bisa kembali dilibatkan,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan